Cerita Petani Kentang dan Kubis di Sumber Ketika Harga Sayur Murah

Sejak bulan lalu, petani di Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo sedang masuk musim panen sayur kentang dan kubis. Namun sayang, harga sayur ini sedang anjlok. Petani pun terpaksa tidak memanen sayur, hingga membusuk.

ARIF MASHUDI, Sumber

Kecamatan Sumber dikenal dengan potensi lahan pertaniannya. Bahkan, warga di Sumber mayoritas bertani sayur. Terutama, masyarakat di Desa Wonokerso, berada di daerah paling puncak.

Namun, dalam beberapa bulan ini, kondisi ekonomi tidak berpihak pada mereka. Terutama para petani kentang dan kubis. Sebab saat ini, harga kedua sayur itu sedang murah.

Saat berkunjung ke Desa Wonokerso, beberapa waktu lalu, hampir di sepanjang jalan, tampak petani tengah beraktivitas di lahan pertanian mereka. Ada yang tengah panen kentang dan kubis. Ada pula petani yang baru menanam kentang.

Bertanan kubis dan kentang, memang terus dilakukan petani. Walaupun, harga kedua sayur itu sedang rendah. Maklum, dari hasil bertani itulah, warga Sumber menggantungkan penghasilan mereka.

Nanang Irwanto, salah satu petani sayur mengungkapkan, saat ini harga jual kentang dan kubis sangat murah. Saking murahknya, hampir semua petani merugi.

”Sayur sekarang yang murah ya kentang dan kubis. Jadi petani yang paling merugi sekarang. petani kentang dan kubis. Termasuk saya yang baru panen kentang,” kata warga Desa Wonokerso itu.

Nanang merinci, harga kubis saat ini sekitar Rp 800 per kilogram. Bahkan, sempat hanya Rp 300 per kilogram. Lebih rendah dari biaya angkut dari lahan ke mobil. Dan itu menjadi tanggungan petani.

Saat harga jual anjlok seperti itu, petani kubis banyak memilih tidak panen. Bahkan, membiarkan sayur membusuk di lahan. Sebab, biaya angkut dari lahan ke mobil saja Rp 500 per kilogram. Dengan harga jual hanya Rp 300 per kilogram, petani dipastikan rugi Rp 200 per kilogram.

”Harga Rp 500 per kilogram saja sudah tidak ada untungnya, rugi malah adanya. Karena tengkulak itu beli di jalan. Jadi biaya angkut dari lahan ke tepi jalan itu ditanggung petani. Apalagi, lahannya jauh dari jalan,” katanya.

Saat lahan pertanian jauh dari jalan dikatakan Nanang, banyak petani memilih tidak panen. Mereka membiarkan kubisnya membusuk. Berbeda saat harga kubis mahal, Rp 2.000 – Rp 3.000 per kilogram.

”Saat harga kubis itu mencapai Rp 3.000 per kilogram, sama halnya petani itu nemu duit. Karena modalnya tanam kubis itu tidak seberapa besar,” ujarnya.

Bertanam kubis sendiri butuh modal sekitar Rp 3-5 juta untuk lahan seluar 1 hektare. Itu sudah termasuk bibit dan tenaga buruh tani selama tanam.

Bibit per amplop isinya sekitar 3.000 biji. Jika lahan 1 hektar, butuh 5 amplop atau 15.000 biji bibit. Jika tanam bagus, bisa panen 15.000 kubis. Dengan berat kubis sekitar 2-3 kilogram per buah.

”Jika harga kubis sampai Rp 3.000 per kilogram, saat panen di lahan 1 hektar, harga jual bisa sampai Rp 40 juta. Bayangin, dengan modal Rp 3 juta sampai 5 juta untuk lahan 1 hektare, panen bisa dapat Rp 40 juta,” ungkapnya.

Beda lagi dengan bertanam kentang. Sudir, seorang petani kentang mengaku, untuk luas lahan 1 hektare, dibutuhkan modal Rp 25 juta – Rp 35 juta.

Itu belum termasuk bibit kentang. Sebab, petani sayur tidak menghitung harga bibit kentang yang bisa Rp 10 juta – 15 juta untuk lahan 1 hektare.

Saat panen dan hasil bagus, petani bisa dapat kentang sampai 10 ton. Sementara harga kentang saat ini hanya Rp 4.000 per kilogram. Dengan hasil panen di atas lahan 1 hektare, penjualan hanya dapat Rp 40 juta. Sedangkan biaya produksi untuk lahan 1 hektare sekitar Rp 35 juta.

”Harga kentang sekarang Rp 4.000 per kilogram. Harga itu sangat murah dan petani pasti rugi,” kata perangkat desa Wonokerso itu.

Karena itu diakui Sudir, sebagian petani memilih untuk membiarkan kentang mereka atau tidak panen. Sambil menunggu harga kentang naik. Sebab, kentang tidak akan membusuk, walaupun tidak langsung dipanen. Bahkan bisa sampai 2 bulan dibiarkan tidak dipanen, tidak masalah.

Ada juga petani yang memilih untuk dipanen langsung. Karena, lahannya mau ditanami sayur lagi, dan hasil penjualan dibuat modal tanam lagi. (hn)