Menteri PPN: Pelabuhan Probolinggo Bisa Jadi Alternatif Tanjung Perak

TIGA POTENSI: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro (kiri) menyebut, Kota Probolinggo punya tiga potensi yang bisa dikembangkan. Salah satunya, pengembangan kawasan pelabuhan. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN – Kota Probolinggo memiliki potensi pengembangan kawasan pelabuhan. Keberadaan pelabuhan bisa menarik industri di sekitar Probolinggo untuk menggunakan pelabuhan Probolinggo sebagai titik awal jalur transportasi laut.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menegaskan hal ini, saat kunjungan ke Kota Probolinggo, Sabtu (16/3). Memang menurutnya, pengembangan kawasan pelabuhan ini akan bersaing dengan Tuban dan Gresik.

“Untuk pelabuhan ini Probolinggo nantinya, akan memiliki saingan Tuban dan Gresik. Bahkan pelabuhan mereka juga dilengkapi dengan kawasan industri,” ujarnya.

Meski demikian, Kota Probolinggo masih bisa bersaing. Caranya, memperluas akses transportasi angkutan laut. Mengingat sepanjang Probolinggo-Pasuruan banyak terdapat industri.

“Industri-industri ini jika sebelumnya menggunakan Pelabuhan Tanjung Perak untuk proses pengiriman, bisa berganti ke Pelabuhan Probolinggo yang relatif lebih dekat,” ujarnya.

Lebih jauh Bambang menjelaskan, penting adanya pelabuhan di Probolinggo dikaitkan dengan kawasan industri. Menurutnya, pelabuhan Probolinggo perlu penambahan kapasitas serta dikaitkan dengan kawasan industri.

“Sehingga ada penunjang kegiatan pelabuhan dan bisa menjadi alternatif bagi pelabuhan Tanjung Perak dan Gresik,” ujarnya.

Kawasan industri sendiri dikatakan Bambang, tidak harus berada di Kota Probolinggo. “Di kabupaten tidak masalah, yang penting kawasan industrinya terintegrasi dengan pelabuhannya,” jelasnya.

Rencana pengembangan kawasan industri inipun, telah diprogramkan oleh Pemkot Probolinggo. Bahkan telah masuk dalam Raperda Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) yang masih dalam proses penyusunan.

“Kota Probolinggo sudah siap memiliki kawasan industri. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan Bappeda sekitar 400 ha luasnya. Namun pengembangan kawasan industri ini tetap butuh waktu dan proses yang tidak sedikit,” ujar Hadi Zainal Abidin, Wali Kota Probolinggo.

Hadi menyebut, keberadaan kawasan industri ini penting melihat potensi yang ada di Kota Probolinggo. “Lokasinya ada di sebelah pelabuhan Barat. Lahan sudah tersedia bahkan sudah masuk dalam RTRW,” ujarnya.

Sementara Rey Suwigtyo, Kepala Bappeda Litbang Kota Probolinggo membenarkan rencana pengembaangan Kawasan Industri. Namun Tyo –sapaan akrabnya– belum menjelaskan seperti apa dan di mana kawasan industri tersebut.

“Tapi Kawasan Industri ini sudah masuk dalam Raperda RTRW yang saat ini masih berproses,” jelasnya.

 

Dukung Pembangunan Rumah Sakit Baru

Di sisi lain, Kota Probolinggo juga memiliki dua potensi yang lain. Yaitu, menjadi kota jasa regional. Terutama kota jasa regional yang berada di wilayah antara Surabaya dan Banyuwangi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menegaskan, kota seperti Probolinggo merupakan wilayah yang lebih menekankan pada sektor jasa. Namun untuk kota jasa utama di Jawa Timur sudah ada Surabaya dan Malang.

“Karena itu, Kota Probolinggo bisa berkembang menjadi kota jasa regional yang berada di antara Surabaya dan Banyuwangi,” katanya.

Penyediaan jasa yang dimaksud, disediakan bagi kota sekitarnya. Seperti jasa keuangan, perbankan, jasa transportasi dan yang lain.

“Wali Kota misalnya mengusulkan pengembangan rumah sakit. Rumah sakit ini nantinya tidak hanya menjadi rujukan bagi warga Kota Probolinggo. Namun, juga bagi regional daerah,” ujarnya.

Bambang pun menyampaikan ke Wali Kota agar usulan pembangunan rumah sakit ini diajukan dalam DAK 2020. Di sana ada DAK penugasan untuk Bidang Kesehatan.

“Itu bisa digunakan untuk membangun rumah sakit daerah sampai tipe B. Jika DAK tahun 2020 disetujui, maka Januari sudah bisa turun anggaran untuk rumah sakit,” tambahnya.

Selain jadi kota jasa, Bambang menyebut Kota Probolinggo juga memiliki potensi besar di bidang wisata. Sebab, berada di dekat akses jalan menuju objek wisata nasional Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS).

Namun Bambang menyarankan agar Kota Probolinggo mengembangkan sektor wisata lain, tidak hanya wisata Bromo. Dengan wisata lain itu, diharapkan mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama di Kota Probolinggo.

“Tapi Kota Probolinggo juga harus siap dengan fasilitas untuk wisatawan ini. Seperti restoran, hotel, toko retail,” ujarnya.

Mantan menteri keuangan inipun menyarankan agar Pemkot Probolinggo menyusun tiga skala prioritas perencanaan pembangunan. “Setiap perencanaan harus ada yang diprioritaskan. Prioritas di tiga aspek yang kompetitif, menjadikan Kota Probolinggo sebagai kota jasa regional,” ujarnya.

Sementara itu Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin menjelaskan, Pemkot telah menyampaikan usulan program perencanaan pembangunan pada Kepala Bappenas. “Ada 10 program yang kami sampaikan. Dari 10 program ini kami tentukan program yang prioritas, program lanjutan juga,” ujarnya.

Untuk pembangunan rumah sakit baru menurutnya, lahan pembangunan sudah tersedia. “Luasnya sekitar 5 hektare untuk dibangun rumah sakit. Tepatnya di Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok,” ujarnya memastikan. (put/hn)