Saat Atlet Menembak Dilibatkan untuk “OTT” Hama di Pasar Kebonagung

Belasan orang menenteng senjata. Memasuki Pasar Kebonagung menjelang tengah malam. Kegiatan transaksional antara pedagang dan pembeli memang telah berakhir beberapa jam sebelumnya. Belasan orang berpakaian gelap itu memasuki area pasar. Perburuan pun dimulai.

MUHAMAD BUSTHOMI, Purworejo

Malam kian pekat. Sedikit gerimis. Sementara, waktu menunjukkan pukul 23.00. Kesunyian pasar mendadak gempar. Dentuman bunyi tembakan pun bersautan dalam nuansa remang-remang. Sedikit gelap. Kegiatan “OTT” tersebut berlangsung sekitar tiga jam lamanya.

ANCANG-ANCANG: Salah satu penembak membidik sasaran tikus. (Istimewa)

Dari berbagai penjuru, belasan orang membidikkan senjatanya ke depan. Bola mata mereka seolah enggan berkedip. Demi mencari mangsa agar tak terlewat dari pandangan. Sebab mangsa yang dicari terbilang gesit.

Mangsa-mangsa itu bahkan menyelinap di sela bedak pasar. Terkadang menunjukkan batang hidungnya. Seolah menantang para penembak yang hendak menumpasnya. Sebuah tembakan melesat. Satu mangsa pun tergelepar tak berdaya.

Tak berhenti disitu. Kegiatan OTT masih berlanjut. Sebab mangsa yang akan ditumpas tak hanya satu dua. Melainkan belasan. Mungkin juga puluhan. Hingga pukul 02.00, para penembak berhasil membekuk puluhan mangsa.

Sedikitnya ada 21 mangsa yang berhasil ditaklukkan. Mangsa-mangsa itu ditembak dari jarak dekat. Tak sedikit pula yang tak berdaya akibat tembakan jarak 5 hingga 10 meter. Mangsa-mangsa itu bukan manusia. Melainkan tikus-tikus pasar.

Istilah OTT dalam kegiatan yang berlangsung Sabtu (16/3) malam itu juga bukan Operasi Tangkap Tangan. Yang dikenal sebagai rangkaian penyelidikan tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Melainkan Operasi Tembak Tikus.

Ya, kegiatan itu merupakan upaya untuk menjadikan lingkungan pasar lebih bersih. Keberadaan tikus-tikus pasar selama ini menjadi salah satu hal yang kerap dikeluhkan. Tak hanya oleh pedagang. Melainkan juga pembeli, yang merasa jijik. Lantaran kondisi pasar kumuh. Dipenuhi tikus-tikus liar.

Dengan kondisi semacam itu, pihak Unit Pelaksana Teknis Pasar Kebonagung pun memutar otak. Bahkan khawatir apabila keberadaan pasar tradisional akan dijauhi peminat. Padahal pasar tradisional selama ini diunggulkan dengan harga yang lebih terjangkau. Ada proses tawar menawar disana.

“Kalau diracun, kami punya pertimbangan lain. Karena yang diperdagangkan di pasar ini kan bahan pangan. Khawatirnya malah membahayakan barang dagangan itu sendiri,” kata Kepala UPT Pasar Kebonagung Ridho Wijaya.

“Makanya biar ditembak saja. Karena tikus-tikus di pasar ini terbilang kendel (berani), juga tak tahu malu. Bahkan ketika ada pembeli, ada petugas kebersihan pun sering berkeliaran,” ujarnya.

Alasan itu pula yang mendasari Ridho bekerja sama dengan Perbakin Kota Pasuruan. Barulah kemudian muncul kesepakatan untuk menggelar OTT. “Kami hanya mendampingi saja dalam kegiatan OTT ini. Yang bertugas merupakan anggota Perbakin,” jelas Ridho.

Dari kegiatan perdana itu, Ridho mengaku puas. Meski hasil buruan, belum seberapa. Dibandingkan dengan jumlah tikus pasar, yang dinilainya cukup membeludak. Karena itu, pihaknya akan kembali menggelar kegiatan OTT untuk waktu mendatang.

Ia berharap, aksi serupa juga bisa diterapkan di sejumlah pasar lainnya. Agar kondisinya lebih bersih dan tak menanggalkan kesan kumuh. Setali tiga uang. OTT tersebut tak hanya mendatangkan keuntungan bagi pihak pasar. Melainkan juga bagi 12 penembak yang dilibatkan.

“Kami merasa terbantu dengan kegiatan ini. Tikus-tikus pasar berkurang. Teman-teman Perbakin juga punya sarana latihan menembak sasaran bergerak,” terang Ridho.

Ketua Perbakin Kota Pasuruan, Dedy Cahyo Purnomo mengapresiasi inisiatif kegiatan OTT dari pihak UPT Pasar Kebonagung. Karena selama ini, persoalan pasar yang kumuh memang sulit dihindarkan. Apalagi dengan banyaknya tikus-tikus yang berkeliaran disana-sini.

“Kami akan sangat mendukung apabila kegiatan ini akan berlanjut kedepannya,” akunya.

Meski hanya berbekal senapan angin, kata Dedy, pihaknya juga tak sembarangan menggelar OTT. Ia mengaku tetap menjalankan kegiatan itu secara prosedural. Yakni dengan berkirim surat ke pihak kepolisian maupun militer setempat.

“Senjata yang dipakai yakni senapan angin kaliber 4,5 dengan peluru gotri. Speednya juga tak begitu tinggi karena lokasinya di dalam pasar,” jelasnya. (fun)