Terdengar 5 Kali Letusan di Bromo, Wisatawan Diimbau Pakai Masker

SUKAPURA – Meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Bromo jadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo. Untuk mengantisipasi terjadinya erupsi, saat ini BPBD telah membuat jalur evakuasi.

TERHALANG: Mobil dinas milik Pemkab Probolinggo terhalang pohon yang ambruk diempas angin kencang di akses Bromo. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Jalur itu terhubung dengan titik kumpul, titik kumpul sementara, hingga tempat pengungsian. Yakni sepanjang akses jalan mulai dari Desa Sukapura hingga Desa Ngadisari.

Hal itu diungkapkan olah Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi. Selain itu, BPBD akan melakukan koordinasi tentang kesiapsiagaan dan kewaspadaan kepada masyarakat dan otoritas setempat. Termasuk membantu Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Bromo dalam pemasangan alat pantau dan pendirian tenda pos pengamanan di lautan pasir.

Anggit juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang, serta memantau perkembangan informasi dari pihak yang berkompeten. Seperti PVMBG, TNBTS, dan BPBD. “Sampai saat ini, wisatawan masih diperbolehkan menikmati keindahan Bromo. Baik itu dari Cemorolawang, Seruni Point, Mentigen, dan sekitarnya,” terangnya.

Sementara itu, hasil pengamatan Minggu (17/3), status Bromo tetap tidak berubah. “Tapi, teramati 5 kali letusan dengan tinggi 1.000-1.500 meter dan warna asap putih, kelabu, dan hitam. Di sekitar PPGA Bromo, hujan abu serta terdengar suara gemuruh lemah hingga kuat,” jelas Kabid Mitigasi Gunung Api (MGA) Hendra Gunawan.

Pantauan meteorologi, aktivitas Gunung Bromo masih tidak jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya. Cuacanya cerah, berawan, mendung, dan hujan. Tiupan angin lemah sampai kencang. Tiupan angin itu ke arah utara, timur laut, timur, barat, dan barat laut.

Suhu udara di lokasi berada di angka 12 sampai 21 derata Celsius. Kelembapan dan tekanan udaranya sama-sama 0-0 mmHg. Kalau di sini, volume curah hujan 13 mm per hari.

Hal itu diperkuat dengan visual gunung yang tampak jelas. Asap kawah bertekanan lemah, sedang, hingga kuat teramati berwarna putih, kelabu, dan cokelat dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 1.000-1.500 meter di atas puncak kawah.

Tak hanya itu, berkaitan dengan tingkat kegempaan, amplitudo berada di angka 29-30 milimeter dengan durasi 47-58 detik. Tektonik jauh jumlahnya. Amplitudo 32 mm, S-P: tidak terbaca, dengan durasi: 253 detik. Sedangkan untuk tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0.5-19 mm (dominan 3 mm).

Selain itu, warga diminta mewaspadai bahaya primer maupun bahaya sekunder. Bahaya primer yakni lontaran batu, abu, aliran lava, gas vulkanik, awan panas, dan guguran lava. Sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya akibat endapan hasil produk erupsi di lereng atau kaki gunung dan bila terbawa hujan jadi lahar.

Terkait dengan bahaya tersebut, dengan status Bromo waspada level II, maka lontaran batu kemungkinan berada dalam radius 1 km dari kawah. Termasuk abu vulkanik yang bisa mengganggu pernapasan bila tidak memakai masker. “Maka dari itu, wisatawan dilarang masuk radius 1 km dari kawah. Serta diimbau untuk memakai masker,” katanya. (rpd/rf)