Wali Kota Probolinggo Apresiasi Kampung Kelir Festival Wirakarya

KADEMANGAN – Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka (FWKKP) 2019, mendapat sambutan positif dari Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin. Senin (18/3) siang, Habib Hadi –sapaan akrab wali kota- mengunjungi Kampung Sarwega, yang terpilih untuk disulap menjadi Kampung Kelir.

Di kampung yang masuk Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, itu Habib Hadi disambut oleh sekitar 1.000 anggota Pramuka peserta festival. Warga Kampung Sarwega, juga tak kalah antusias menyambut lelaki yang berjalan kaki bersama Ketua Kwarcab Kota Probolinggo Moch. Maskur dan Endang Sulistyowati dari Kwarda Jatim.

Senin siang (18/3), pengecatan kampung ini sudah selesai dilakukan peserta festival. Hampir seluruh sisi kampung ini berwarna. Tidak hanya pagar dan dinding rumah warga, sejumlah genting rumah warga juga ada yang dicat.

Adanya festival ini rupanya memancing kegiatan usaha warga. Di antaranya mereka ada yang membuka usaha penjualan makanan ringan dan suvenir.

Habib Hadi sempat menanyakan kepada anggota Pramuka proses pembuatan motif cat yang dilakukan. Karena muncul desain berbentuk kotak-kotak yang teratur. “Kami menggunakan selotip untuk membuat batas cat. Kemudian bagian yang tidak ditempel selotip itu dicat warna-warni,” ujar salah satu peserta.

Kepada Jawa Pos Radar Bromo, Habib Hadi mengaku menyambut positif adanya festival ini. Menurutnya, kegiatan ini berdampak positif bagi warga Kampung Sarwega. “Kegiatan ini memiliki dampak positif dengan memberikan contoh, bahwa kreativitas anak muda bisa memberi dampak luar biasa terhadap lingkungan,” ujarnya.

Politisi PKB ini mengatakan, dalam kegiatan Pramuka ada penanaman nilai-nilai luhur. Seperti pengabdian, cinta tanah air, serta sikap tolong menolong. Kegiatan positif ini juga mampu mendorong kekompakan peserta Festival Wirakarya.

Bahkan, Habib Hadi berencana melaksanakan kegiatan serupa di wilayah lain di Kota Probolinggo. Sasaran utamanya kawasan kumuh. “Kami ingin coba mengarahkan ke daerah yang kumuh. Seperti daerah Mayangan, Jati, dan Mangunharjo,” ujarnya.

Menurutnya, daerah-daerah yang padat penduduk menjadi sasaran program yang diadaptasi dari Festival Wirakarya. Sehingga, ketika orang masuk ke kawasan padat itu, bisa merasakan suasana yang cerah. (put/*)