Begini Kampanye Literasi lewat Program Dolanan di Kab Probolinggo

Rendahnya minat baca di Indonesia jadi perhatian bersama. Untuk mengampanyekan literasi, terobosan baru dilakukan di Kabupaten Probolinggo. Diberi nama program Dolanan. Baru berjalan dua bulan, sudah diapresiasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

MUKHAMAD ROSYIDI, Kraksaan

Sekumpulan bocah tampak bercengkrama di bawah rindangnya pohon di Pantai Bohay, Desa Binor, Kecamatan Paiton, suatu pagi di awal Maret. Mereka terlihat serius, namun sesekali dari bibir anak anak itu tertawa riang gembira.

Di sudut lain, tampak sejumlah bocah asyik main sendiri. Mereka mencoret-coret buku gambar yang ada di depannya. Ada yang menggambar gunung, ada yang menggambar keluarga, dan bahkan ada yang menggambar hewan.

Begitulah gambaran program dolanan yang digagas oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispersip) Pemkab Probolinggo. Banyak kegiatan di dalamnya yang menghibur dan memberikan pengetahuan baru bagi anak-anak yang sedang ikut berlibur bersama orang tuanya.

Program ini sendiri sebenarnya baru berjalan sekitar dua bulanan. Dimulai pada Februari lalu hingga sekarang. Kegiatan ini, mengajarkan anak-anak untuk bisa menggambar, mendongeng, parenting, mengenal hewan, dan juga sains anak.

“Jadi, ketika ada kumpulan anak di lokasi wisata pada hari libur, itulah kegiatan kami. Itu, anak-anaknya datang secara sukarela ketika berlibur bersama orang tuanya,” kata Endang Astuti, kepala Dispersip setempat.

Hestiyono, salah seorang pustakawan Dispersip menerangkan, dolanan yang dimaksud dalam program itu bukanlah mainan. Namun, singkatan dari Dongeng Keliling Anak-anak. Nama itu diambil lantaran untuk memudahkan anak-anak mengingat dan menimbulkan keingintahuan anak.

“Senengnya kan mainan. Jadi, ketika ada lapak dolanan ini, maka akan menarik mereka untuk bergabung. Tetapi, di dalamnya bukan sekadar mainan. Tapi, ada transfer keilmuan juga,” tambah pria yang akrab disapa Hesti itu.

Mulanya program dolanan anak ini digagas karena tuntutan dari fungsi perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan hendaknya mampu menarik minat masyarakat agar mau datang ke perpustakaan.

Tidak hanya sekadar promosi di baliho atau lainnya. Tetapi, juga harus dengan cara-cara yang bisa memikat warga. Sehingga, kemudian dicetuskanlah membuat program dolanan itu.

“Ini merupakan pendekatan kami kepada masyarakat sekaligus kampanye literasi. Sehingga, jika masyarakat tidak mau ke perpustakaan. Maka, kami hadirkan perpustakaan di tengah-tengah masyarakat,” jelas Hesti.

Dibandingkan negara-negara lain di dunia, tingkat literasi anak-anak dan orang dewasa di Indonesia diakui masih sangat rendah. Kemampuan membaca, berhitung, dan pengetahuan sains anak-anak Indonesia berada di bawah Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Thailand berdasarkan hasil tes ISA (The Programme for International Student Assessment) yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2016.

“Rendahnya literasi merupakan masalah mendasar yang memiliki dampak sangat luas bagi kemajuan bangsa. Literasi rendah berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas bangsa. Ini, berujung pada rendahnya pertumbuhan dan akhirnya berdampak terhadap rendahnya tingkat kesejahteraan yang ditandai oleh rendahnya pendapatan per kapita,” papar Hesti.

Harapannya, lanjutnya, dengan hadirnya program tersebut dapat menanamkan budaya literasi sejak dini. Apalagi, program tersebut secara tidak langsung telah mendapat pengakuan dari Perpusnas.

Itu, setelah foto-foto program itu diikutkan lomba Banner layanan inklusi sosial tingkat nasional pada beberapa waktu lalu dan masuk 10 besar.

Kan bukan hanya dari perpustakaan ya. Tetapi, ini kami gabungan dengan relawan literasi. Mereka juga turut andil dalam program ini. Ke depan akan semakin kami tingkatkan program ini agar bisa menjangkau seluruh masyarakat Probolinggo,” ujarnya.

Kegiatan Dolanan sendiri dilakukan dua kali dalam sebulan. Menyasar tempat wisata dan juga sekolah-sekolah. Pada masa berdirinya, sudah beberapa kali kegiatan ini berlangsung. Antara lain di Pantai Bohay, Pantai Bentar, dan juga beberapa sekolah.

“Sangat antusias. Yang datang ada puluhan. Mereka tidak diorganisasi melainkan datang sendiri. Untuk yang di sekolah tentu karena permintaan dari gurunya. Mereka mengajak kami untuk meningkatkan budaya literasi di sekolah,” terangnya.

Lisa Zumrotul Hasanah, salah seorang relawan literasi mengatakan, ia bergabung dengan program dolanan karena ingin meningkatkan minat baca di daerahnya. Ia ingin menanamkan gemar berliterasi sejak dini.

“Tetapi, target dari program ini bukan hanya anak-anak. Orang dewasa juga ada. Kami sediakan buku untuk para orang dewasa yang ingin membaca,” kata perempuan yang akrab disapa Lisa itu.

Ia sendiri bergabung sejak awal dibentuk program Dolanan. Ketertarikannya dalam dunia literasi, membuatnya bertekad menularkan virus itu kepada orang lain.

Dengan diapresiasinya program tersebut oleh Perpusnas, ia semakin bersemangat. Jika saat ini hanya dua kali saja dalam sebulan, ke depan bisa jadi akan berlangsung setiap minggu. “Sekarang saja sudah banyak yang ingin bergabung. Sekolah banyak yang meminta diadakan di sekolahnya,” ungkapnya.

Di sisi lain, Hesti mengatakan, kedepan akan lebih sering turun. Yaitu, mulai dari alun-alun, desa, dan lainnya akan dikunjunginya.”Program ini akan kami ikutkan Lomba Inovasi Nasional. Tetapi, masih tahun depan. Untuk ikut lomba itu, butuh waktu setahun jalan. Ini kan masih baru, tetapi sudah diapresiasi,” ungkapnya. (mie)