Istri Maling yang Dibakar di Tiris jadi Saksi, Keterangannya Bikin Kaget

KRAKSAAN- Para terdakwa kasus pembakaran terhadap Samhadi, di Desa Tlogosari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, kembali diadili. Kamis (21/3), delapan terdakwa itu dihadirkan dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan para saksi. Salah satunya, istri korban Samhadi, Nur Fadilan.

Sejatinya, kemarin jaksa penuntut umum (JPU) memanggil tiga orang saksi. Namun, hanya Nur Fadilan yang hadir. Alhasil, Gatot Ardian yang menjadi majelis hakim menilai, saksi yang dihadirkan JPU kurang tepat. Sebab, saksi yang dihadirkan tidak ada yang mengetahui kejadian tersebut secara langsung.

Karenanya, dalam persidangan berikutnya, majelis hakim meminta jaksa menghadirkan saksi yang mengetahui perkara yang disidangkan. “Kami harap saksi yang dihadirkan mengetahui langsung kejadian itu. Pihak keluarga cukup diwakili istrinya (korban). Ini, hanya pelengkap dan selanjutnya saksi yang mengetahui langsung yang dihadirkan,” ujar Gatot.

Dalam kesaksiannya, Nur Fadilan mengaku tidak mengetahui langsung pembakaran terhadap suaminya. Ia mengaku mengetahui suaminya menjadi korban pembakaran dari Kepala Desa Ranuagung, Kecamatan Tiris, Busno. Itu, setelah diperlihatkan foto korban. “Ada bekas luka di kakinya. Itu, masih kelihatan. Jadi, saya memastikan dia suami saya. Setelah itu saya tidak sadarkan diri,” ujarnya.

Demi memperjelas kesaksiannya, JPU meminta saksi melihat foto suaminya yang disediakan JPU. Bersama penasihat hukum para terdakwa dan JPU, saksi maju ke meja hakim untuk melakukannya. Saat itulah, saksi tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis hingga akhirnya majelis hakim memintanya kembali duduk.

Karena tangisan itu, persidangan sempat senyap beberapa menit. Pemeriksaan dilanjutkan setelah saksi bersedia melanjutkannya. Dengan suara bergetar, Nur mengaku tidak menyangka suaminya akan meninggal dengan cara tragis. Sebab, sebulan sebelumnya dia pamit hendak bekerja di Bali. “Pasti kaget. Sebulan sebelum kejadian, suami saya pamit mau ke Bali untuk bekerja. Tidak tahunya meninggal dibakar,” ujarnya.

Karenanya, kejadian itu sebagai permohonan maaf, Nur mengaku mendapat santunan dari keluarga para terdakwa. Besarnya sekitar Rp 30 juta. “Sekitar itu (Rp 30 juta) sudah, saya kurang ingat,” ujar Nur.

Dalam kesempatan itu, JPU juga menunjukkan surat pernyataan damai dari keluarga korban dan keluarga terdakwa. Surat itu ditandatangani para keluarga terdakwa yang diwakili istrinya dan keluarga korban yang diwaliki istrinya. Dalam surat itu juga disebutkan korban menerima santunan dari keluarga terdakwa. Serta, menyatakan keluarga korban telah memaafkan dan tidak akan menuntut secara hukum.

HANYA SATU: Dalam sidang Kamis (21/3), sejatinya ada tiga saksi yang dipanggil. Namun hanya satu yang datang. (Foto: M Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Usai pemeriksaan saksi, JPU Ardian Junaedi mengaku masih ada saksi lain. Mereka akan dihadirkan dalam persidangan berikutnya. Serta, dipastikan mereka mengetahui kejadian tersebut. “Sidang minggu depan akan kami hadirkan saksi yang belum hadir. Sehingga, bisa memberikan kesaksian sesuai apa yang terjadi,” ujarnya.

Sementara itu, kuasa hukum para terdakwa Prayuda Rudi Nurcahya mengatakan, sejauh ini pihaknya belum melihat ada bukti yang mengarah terhadap perbuatan para terdakwa. Ke depan, pihaknya juga akan menghadirkan dua saksi. “Kami ada dua saksi yang akan kami hadirkan,” ujarnya.

Diketahui, Juli 2018, Samhadi meregang nyawa. Dia dibakar massa setelah diduga maling motor. Usai insiden itu, polisi menetapkan delapan tersangka. Mereka sama-sama warga Desa Tlogosari, Kecamatan Tiris. Yakni, Amin, Edi Efendi, Sugi, Samin, Suparman, Rofi’i, Mistar, serta Kepala Desa Tlogosasi Saton. (sid/fun)