Ribuan KK di 7 Desa MasihTergenang, Banjir Mulai Ganggu Aktivitas

TAK BISA SEKOLAH: Sejumlah bocah di Kedawung Wetan melintas di genangan banjir, Kamis (21/3). Banjir membuat aktivitas warga terganggu, termasuk sekolah yang meliburkan siswanya. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

GRATI – Belum juga seluruhnya surut, warga di wilayah timur Kabupaten Pasuruan harus kembali merasakan banjir. Bahkan, beberapa warga di sejumlah desa, aktivitasnya mulai terganggu. Tak hanya aktivitas ekonomi. Banjir membuat sejumlah sekolah terpaksa meliburkan kegiatan belajar-mengajar.

Sedikitnya, ribuan kepala keluarga (KK) di tujuh desa dan satu kelurahan di tiga kecamatan di Kabupaten Pasuruan terendam banjir Kamis (21/3). Banjir ini terjadi tidak terlepas dari tingginya curah hujan di wilayah tersebut.

Wilayah yang terendam banjir ini meliputi Desa Bandaran di Kecamatan Winongan; Desa Toyaning, Desa Pateguran, Desa Kawisrejo, dan Sadengrejo di Kecamatan Rejoso; serta Desa Kedawung Kulon dan Desa Kedawung Wetan, Kelurahan Gratitunon di Kecamatan Grati.

Ketinggian air pun bervariasi, antara 20 sampai 90 sentimeter. Banjir terparah terjadi di Desa Kedawung Wetan dan Kedawung Kulon, Kecamatan Grati. Ketinggian air di permukiman warga berkisar antara 80 sampai 90 sentimeter.

Kondisi ini membuat aktivitas warga di dua desa di Kecamatan Grati ini lumpuh. Dua SD dan dua SMP di Desa Kedawung Kulon serta dua SD, satu SMP, dan satu MTs di Desa Kedawung Wetan terpaksa libur.

Tidak hanya itu, pelayanan masyarakat di dua balai desa setempat juga ikut lumpuh. Kendati pemdes tetap membuka layanan, namun banjir membuat balai desa sepi. Tidak sedikit pula pengendara yang tetap nekat menerjang banjir harus mengalami mogok.

TUTUP: SPBU di Ngopak yang sepi aktivitas lantaran ditutup. Banjir juga membuat aktivitas ekonomi terganggu. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Hujan melanda tiga kecamatan ini sejak Rabu petang sekitar pukul 17.00 dan baru reda pukul 21.00. Intensitas hujan yang tinggi ini rupanya membuat debit Anak Kali Rejoso meluap, sehingga air pun masuk ke permukiman warga sekitar pukul 21.00. Padahal, di beberapa desa di kecamatan ini, masih ada permukiman yang genangan airnya belum surut.

Ketinggian air mencapai puncaknya pada pukul 00.00 dimana ketinggian terdalam di pemukiman warga mencapi perut orang dewasa. Namun, tidak ada satu pun warga yang dievakuasi. Mereka memilih tetap bertahan di rumah masing-masing.

Kades Kedawung Wetan Muji Slamet mengungkapkan, banjir sudah menjadi agenda rutin tahunan di desanya. Saban kali memasuki musim hujan dan intensitas hujan tinggi serta turun dalam waktu lama, maka dipastikan desanya terendam banjir.

Menurutnya, hujan memang sempat melanda Kecamatan Grati selama empat jam. Hal ini membuat Ranu Grati dan Anak Kali Rejoso tidak mampu menampung dan meluber ke permukiman warga. Khusus di desanya, sekitar 1.400 KK kebanjiran.

“Sekitar pukul 21.00, air sudah masuk ke permukiman. Seluruh aktivitas warga lumpuh, termasuk sekolah ya terpaksa diliburkan. Namun, kami tetap melayani masyarakat jika memang ada yang membutuhkan,” ungkap Slamet.

Terganggunya aktivitas akibat banjir juga dibenarkan Dwi Hardono, sekretaris Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas Pasuruan (Hiswana Migas). Banjir yang terjadi sejak Selasa (16/3) lalu, juga membuat distribusi elpiji tersendat.

“Kami tak bisa mengirim tabung gas ke sejumlah distributor karena kendaraan yang melintas terjebak,” beber Dwi Hardono. Meski begitu, Dwi memastikan, tetap akan mendistribusikan ke distributor terdekat dengan warga terdampak banjir. Ini agar tak terjadi pemahaman bahwa elpiji sedang langka.

Ketua Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana menjelaskan, banjir yang terjadi di tiga kecamatan di Kabupaten Pasuruan ini dikarenakan faktor alam dan nonalam. Salah satunya adalah hujan yang tinggi dan lama.

Sementara untuk faktor nonalam disebabkan minimnya saluran drainase di permukiman warga, sehingga air tidak kunjung surut. Kondisi ini bisa disebabkan bangunan dan rumah milik warga sehingga sebagian drainase tertutup.

Menurutnya, BPBD sudah meminta pada setiap pemdes melalui kecamatan setempat untuk membangun drainase lingkungan di setiap dusun. Selain itu, pihaknya terus berkomunikasi dengan Pemprov agar sejumlah sungai seperti Kali Welang dan Kali Rejoso dinormalisasi.

“Sudah waktunya Kali Rejoso dinormalisasi. Cuma ini kewenangan provinsi. Kami hanya sebatas mengajukan. Yang jelas kami sudah menyiapkan posko relawan di setiap desa terdampak banjir. Sehingga, jika memang memerlukan evakuasi bisa segera dilakukan,” terang Bakti. (riz/fun)