Ketika Anita Supristiawaningsih Terpukau Sekolah Adni di Malaysia yang Ajarkan Konsep Ketuhanan

Anita Supristiawaningsih baru saja pulang dari sekolah Adni di Malaysia. Kepala sekolah TK Islam Terpadu Permata Kraksaan itu terkesan dengan metode pembelajaran di sekolah yang bertaraf internasional.

MUKHAMAD ROSYIDI, Kraksaan

Wanita yang usianya 47 tahun tersebut, nampak bersemangat saat ditemui. Padahal siang itu, Anita sapaan akrabnya, baru saja rapat bersama dewan guru yang ada di sekolahnya.

“Saya tidak menyangka bisa kesana (Malaysia). Dalam benak saya saya hanya ingin mendatangi sekolah-sekolah yang telah maju dan bertaraf internasional. Sehingga bisa di aplikasikan disekolah kami,” ujarnya memulai pembicaraan.

Wanita yang juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo itu mengaku, dirinya berkesempatan ke negeri jiran, lantaran ikut membesarkan program mengajar metode Alquran otak kanan. Alhasil, dia mendapat reward bersama perwakilan dari Batam dan Lampung.

Istri dari Sekretaris MUI Kabupaten Probolinggo Yasin itu, bersama dengan peserta lain sekitar tiga hari di negeri jiran. Selama di sana, mereka mendapatkan materi dan juga berkesempatan berkunjung ke sekolah Adni, salah satu sekolah yang bertaraf internasional.

Nah, dalam kunjungannya itulah Anita mengaku terpukau dengan sistem belajar di sekolah itu. Di sekolah itu ada sistem pembelajaran yang di sebut IHEF. Sistem pengajaran yang mengedepankan kepada konsep ketuhanan.

“Yang saya suka dalam pembelajaran itu yaitu mencari rido Allah. Ini kan bagus. Karena itu saya ingin menerapkan itu ke sekolah saya. Meskipun sebenarnya sudah diterapkan tetapi tidak lebih dari sekolah ini oenerapannya,” ungkapnya.

Wanita enam anak ini juga terus menjelaskan, bahwa dalam belajar itu tidak usah mendahulukan keinginan. Yaitu, sekolah biar jadi guru dokter, tentara atau yang lain. Menurutnya, semua akan mengikuti jika keilmuan yang didapatkan memadai. “Karena itu saya merasa terkagum kagum mendapatkan keilmuan baru,” tandasnya.

Selain itu, dalam sistem pembelajaran itu juga mengenal belajar dalam kelas, yang disebut Formal, dan Informal (diluar kelas) dan juga ada Nonformal (belajar dimana saja). Konsep ini menurutnya juga patut diapresiasi. Sehingga siswa tidak terpaku dalam kelas saja belajarnya. Tetapi, juga bisa belajar di berbagai tempat.

“Ini masih sebagaian yang saya paparkan atas kekaguman saya terhadap metode pengajaran disana. Kalau saya sebutkan semua mungkin tidak akan cukup sehari,” jelasnya.

Kedepan, meskipun usia tidak muda lagi, ia masih ingin menimba ilmu. Menimba ilmu baginya tidak terbatas umur. Melainkan sepanjang hidup bisa terus digunakan menambah ilmu.

“Saya masih ingin berkunjung kesekolah sekolah lain yang bisa memberikan keilmuan dan bisa disampaikan kepada murid saya. Sebab, itu saya tidak ada bosan-bosannya untuk menimba ilmu,” ujarnya. (*)