Odeng yang Jadi Sumber Ekonomi Baru dan Ikon Wisata Kab Probolinggo

ODENG KHAS: Lailatul Rahmah (kanan) bersama Sum Laila menunjukkan Odeng Paitonan dan Bangeran yang sudah diproduksi. Odeng ini salah satunya dipasarkan di Pantai Bohay, Binor. (Hana Susanti/Radar Bromo)

Related Post

Kini Kabupaten Probolinggo memiliki ikon wisata baru. Bentuknya berupa odeng. Tidak hanya Okra yang dikenal lebih dulu. Di Pantai Bohay, Binor, Kecamatan Paiton, ada Odeng Paitonan. Dan di Dringu, mengembangkan Odeng Bangeran.

HANA SUSANTI, Paiton

Malam itu sedang digelar pengukuhan pengurus Dewan Kesenian Kabupaten Probolinggo periode 2019-2022 di Gedung Islamic Centre (GIC) Kraksaan. Sejumlah undangan pun hadir. Yang menarik, banyak di antara undangan yang menggunakan odeng.

Bentuknya seragam. Odeng dengan jengger lima. Yaitu, tiga jengger di kanan dan dua jengger di kiri. Lalu, satu cucuk di depan. Odeng ini pun praktis. Bisa langsung dipakai.

Itulah odeng genre Paitonan. Ikon baru wisata Pantai Bohay di Binor, Kecamatan Paiton yang malam itu sengaja dikenalkan pada para pelaku seni yang notabene para pelaku industri kreatif. Sebuah industri yang sedang dikembangkan pemerintah pusat. Bahkan, pengurus Badan Ekonomi Kreatif di pusat dibentuk langsung oleh presiden.

Bentuk ikon baru wisata yang sedang dikenalkan itu memang sederhana. Berupa odeng. Harganya pun murah. Dijual dengan nilai Rp 45 ribu untuk ukuran dewasa. Sementara untuk ukuran anak-anak, dijual Rp 40 ribu per buah. Namun, odeng sebagai ikon wisata ini diharapkan memberikan multiplier effect yang panjang di beberapa bidang.

Selain itu, ada Odeng Bangeran. Sebuah odeng yang disiapkan untuk ditawarkan sebagai ikon wisata baru untuk Bentar dan sekitarnya. Penggagasnya adalah Bukhori, kades Dringu, Kecamatan Dringu. Dia sekaligus pembina UKM penyangga wisata wilayah tengah. Yaitu, Bentar dan sekitarnya.

Bohay dan Bentar sengaja dipilih. Sebab, merupakan dua dari empat destinasi wisata yang sedang dikembangkan oleh Pemkab Probolinggo melalui Disporaparbud yang dikenal dengan sebutan 4B. Yaitu, Bromo, Bentar, Bremi, dan Binor.

Saat ini, pembuatan Odeng Paitonan dan Bangeran melibatkan UKM Industri Kreatif Odeng Batik di Blok Masjid RT 01/RW 001, Desa Paiton, Kecamatan Paiton. Di rumah Lailatul Rahmah, 29, pembuatan odeng itu dilakukan. Namun, Ila –panggilannya- tidak bekerja sendirian. Menggunakan kain batik, dia hanya memotong kain berdasarkan pola.

Selanjutnya, proses pembuatan dilakukan oleh para ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Saat ini, sudah ada tujuh ibu rumah tangga yang terlibat. Mereka bertugas memasang dan menjahit pola yang sudah dibuat oleh Ila. Yang dipilih adalah ibu-ibu yang punya mesin jahit.

Pesanan pun mengalir. Jumlahnya sudah mencapai ratusan. Mulai pesanan dari Dinas Kehutanan, Dinas Koperasi dan UKM, Perpustakaan. Tidak ketinggalan dari ibu-ibu yang memesan untuk anak-anak mereka. Bahkan, pada tanggal 22, 23, dan 24 ini, odeng ini akan ikut pameran di Pasuruan.

Para ibu rumah tangga itu sendiri, dalam sehari bisa membuat sekitar 6 – 12 odeng. Dari sini, mereka bisa mendapat pendapatan sekitar Rp 30 ribu – Rp 60 ribu. “Cukup sekali untuk menambah uang jajan anak-anak. Untuk menambah uang dapur juga,” terang Sum Laila, 40, warga Blok Masjid RT 01/RW 001, Desa Paiton, salah satu pekerja pembuat odeng.

Memang, saat ini pemasaran masih berjalan di sekitar Probolinggo. Namun, proses marketing jalan terus. Bahkan, ada petugas marketing khusus yang mencari pasar. Yaitu, Linda Yuliana, 32. Sehingga, diharapkan pemesan terus datang.

Ila sendiri mengaku sangat bersyukur. Sebab, apa yang dilakukannya sekarang bisa memberikan lapangan kerja baru orang-orang di sekitarnya. Memang, ini baru tahap awal. Namun, setidaknya sudah bisa merintis sebuah industri.

Odeng Paitonan dan Bangeran ini sendiri, tentu bukan asal dibuat. Keduanya merupakan hasil dari sebuah proses panjang yang dirintis oleh sejumlah OPD di Kabupaten Probolinggo. Mulai Diskominfo, Disporaparbud, sampai Dinas Koperasi dan UKM.

Ya, munculnya Odeng Paitonan dan Bangeran tidak bisa lepas dari sejarah pendahulunya, Okra (Odeng Kacong Kraksaan) yang lahir pada 2012. Bahkan, bisa dibilang, Okra menjadi salah satu inspirasi munculnya odeng Paitonan dan Bangeran.

Plt Kepala Diskominfo Tutug Edy Utomo bercerita, pada 2012 saat masih menjadi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), pihaknya mengenalkan Okra. Okra saat itu sengaja dibuat sebagai cara untuk melakukan promosi wisata. Sekaligus branding untuk Kraksaan sebagai ibu kota Kabupaten Probolinggo yang saat itu ulang tahun ke dua. Bahkan, Okra di-launching sebagai odeng khas Kraksaan.

Bentuknya sederhana. Yaitu, ada dua jengger atau gunungan di kiri dan satu di kanan. Tiga gunungan itu melambangkan alam Kabupaten Probolinggo yang terdiri atas beberapa gunung. Yaitu, Gunung Bromo, Argopuro, dan Lemongan. Lalu, satu gunungan di belakang merupakan ciri khas odeng Jawa Timuran.

“Waktu itu kami berpikir sederhana. Daerah lain punya ikon khas wisata. Kayak Banyuwangi, sepuluh jenis odeng. Masa kita dak bisa hanya sekadar buat odeng. Makanya kemudian muncul Okra itu,” katanya.

Saat itu Okra dibuat menggunakan kain batik. Namun, hanya diproduksi terbatas. Produksinya pun dilakukan oleh penjahit biasa, tidak melibatkan UKM atau perajin.

Setelah itu, Okra kembali dikenalkan pada 18 April tahun 2017. Bertepatan dengan hari ulang tahun Kabupaten Probolinggo. secara resmi, Okra dikenalkan melalui acara Inbox dan Panggung Gembira di Alun-alun Kraksaan. Kedua acara ini disiarkan live secara nasional oleh televisi nasional.

Di luar itu, Okra kemudian digunakan secara resmi sejak tahun 2017 sebagai pelengkap pakaian khas di event resmi kedaerahan. Salah satunya digunakan sebagai pakaian khas saat sidang istimewa DPRD Kabupaten Probolinggo memperingati hari ulang tahun Kabupaten Probolinggo.

“Bahkan, saat itu Bupati (Puput Tantriana Sari) menandatangani piagam pencanangan pakaian khas Kabupaten Probolinggo. Salah satunya, untuk yang laki-laki menggunakan Okra,” terang Tutug.

Namun, lagi-lagi saat itu Okra masih diproduksi terbatas. Produksinya juga masih menggunakan penjahit biasa. Baru pada tahun 2018, Okra diproduksi oleh perajin batik Kabupaten Probolinggo yaitu Mahrus.

“Mahrus ini memproduksi sekitar tahun 2018. Lalu empat bulan lalu, masih di tahun 2018, Kecamatan Krejengan menampilkan secara resmi Okra dalam sebuah pameran. Di Krejengan ini, Okra juga diproduksi oleh perajin,” terangnya.

Tutug bahkan berharap, tiap kecamatan punya ciri khas wisata sendiri. Bahkan jika perlu, punya odeng khusus. Gayung pun terus bersambut. Sejak awal 2019, Odeng Paitonan dan Bangeran pun dirintis sebagai ikon baru wisata di Kabupaten Probolinggo. penggarapannya pun melibatkan UKM di daerah penyangga wisata.

Odeng Paitonan sendiri, saat ini juga dijual secara langsung di Pantai Bohay Paiton. Pengelola Pantai Bohay Soni mengatakan, pihaknya menyiapkan etalase khusus untuk memasarkan produk ini. “Odeng ini sengaja kami kenalkan sebagai ikon baru wisata Pantai Bohay,” tuturnya.

Soni pun optimistis, Pantai Bohay sebagai salah satu wisata andalan Kabupaten Probolinggo menjadi tempat strategis untuk mengenalkan ikon baru itu. Posisi Pantai Bohay di wilayah paling timur, merupakan lokasi wisata yang strategis menerima tamu dari Bali maupun yang akan ke Bali.

“Kami mengambil odeng ini dari UKM Industri Kreatif Odeng Batik di Desa Paiton. Memang kami sengaja mengambil dari sana untuk memberdayakan UKM di daerah Paiton. Ini sesuai dengan program Dinas Koperasi dan UKM yang saat ini sedang dilakukan,” tutur Sony.

Dengan cara ini, menurutnya, pihaknya berharap bisa ambil bagian dalam pengembangan wisata melalui industri pembuatan odeng. “Penggunanya ya kami ini, para pengelola wisata. Sedangkan strateginya menggunakan strategi ekonomi kreatif,” tuturnya.

Sony bahkan berharap, industri odeng ini bisa mengangkat atau meningkatkan daya beli batik di Kabupaten Probolinggo. “Karena odengnya kan dibuat dengan kain batik. Otomatis, daya beli batik akan meningkat. Dan, pada akhirnya nanti akan memberikan keuntungan pada perajin batik,” tuturnya.

Zulkarnaen, kabid UMKM di Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Probolinggo menyambut baik perkembangan di lapangan. Walaupun menurutnya, di dinas pihaknya sedang dalam tahap merintis. Yaitu, program integrasi area UMKM berbasis wisata. Menurutnya, dinas memang punya program untuk melibatkan UMKM di daerah wisata.

Dalam hal ini, wisata yang dipilih adalah wisata 4B yang menjadi program pengembangan Kabupaten Probolinggo. Yaitu, Bromo, Bentar, Bremi, dan Binor. Dinas bahkan sudah menggagas pembina UKM penyangga wisata wilayah barat (Bromo dan sekitarnya), tengah (Bentar dan sekitarnya), dan wilayah timur (Bremi dan sekitarnya).

“Kami memang baru melangkah. Namun, intinya kami fokus untuk melibatkan UMKM di daerah penyangga wisata 4B. Di daerah-daerah wisata ini, kami akan mengembangkan UMKM untuk terlibat dalam pengembangan wisata,” tuturnya. (*)