Pantang Hafalan, 16 Penerjun Payung Hebohkan Opening O2SN Probolinggo

MAYANGAN – Sebanyak 16 penerjun dari Brigade Infanteri Lintas Udara (Brigif Linud) 18 Kostrad Malang, meramaikan pembukaan Galasiswa dan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Kota Probolinggo. Sabtu (23/3), mereka memeriahkan acara pembukaan yang digelar di Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo.

Karena terkendala cuaca, acara molor hingga sekitar dua jam. Namun, semua penerjun berhasil mendarat dengan baik. Para raider terjun dari ketinggian 10 ribu kaki atau sekitar 4,5 kilometer di atas permukaan tanah.

Dari 16 penerjun, dua di antaranya membawa lambang Kostrad dan satu membawa bendera berlambangkan Kota Probolinggo. Selanjutnya, bendera itu diberikan kepada Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin.

Habib Hadi –sapaan akrabnya– mengaku berterima kasih telah mempercayakan para penerjun itu mendarat di Kota Probolinggo. Katanya, hal ini bisa menumbuhkan rasa cinta pada NKRI.

“Kami ingin menunjukkan banyak hal positif yang bisa dipetik. Termasuk kegiatan olahraga. Masa depan anak-anak yang masih panjang ini harus dijaga. Mulai dari jasmani dan rohaninya. Dengan adanya TNI ini bisa menjadi contoh dan motivasi tersendiri bagi mereka,” ujarnya.

Sedangkan, Dandim 0820 Letkol Inf Imam Wibowo mengatakan, dalam kesempatan ini Kostrad juga dilatih menguasai wilayah baru. Sehingga, Kota Probolinggo dipandang cocok untuk menjadi wilayah penerjunan baru. Sebab, sebelumnya belum pernah ada penerjun di Kota Probolinggo.

“Ini merupakan wujud kepedulian TNI kepada wilayah. Untuk membangkitkan semangat generasi muda,” ujarnya.

Komandan Brigade Linud 18 Kostrad Malang Kolonel Inf Bangkit Widodo menambahkan, latihan penerjunan yang dilakukan dalam setahun 4 kali ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Sehingga, para raider tidak hanya bisa mendarat di wilayah yang biasa dijadikan tempat latihan. Namun, juga harus bisa mendarat di lokasi lain yang belum pernah dilakukan.

“Kami akan lakukan di tempat-tempat lain juga. Sebelumnya di Pasuruan, hari ini (Sabtu) di Kota Probolinggo, dan selanjutnya di lokasi lain. Sehingga, para raider tidak hanya hafalan. Namun, menguasai penerjunan di segala medan dan titik yang baru,” ujarnya. (rpd/rud)