Pasutri Ini Kehilangan Anak-Menantu-2 Cucu dalam Laka Maut Pajarakan

NAHAS: Jenazah Edi Putra dan Sinta korban kecelakaan maut Pajarakan saat dibawa ke kamar jenazah RSUD Waluyo Jati, Kraksaan. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Netiarjo tak menyangka, niatan sang anak menjenguk suaminya menjadi petaka. Tak hanya kehilangan sang anak, perempuan 58 tahun itu juga kehilangan menantu dan dua cucunya.

 

ARIF MASHUDI, Kraksaan

 

SATU persatu keluarga Samsi, korban kecelakaan maut di jalur pantura masuk Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, datang ke RSUD Waluyojati Kraksaan. Mereka datang dari Desa Sokaan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Di IGD, mereka mendapati ada 5 orang yang tengah dirawat.

Bagaimana dengan nasib 6 orang lainnya? Akhirnya, mereka mengetahui jika 6 lainnya sudah mengembuskan napas terakhirnya. Netiarjo, ibu Samsi langsung menuju kamar mayat.  Tiba di kamar mayat, kaki Netiarjo langsung lemas. Ia tak sanggup berdiri. Menangis pun, napasnya seakan tercekat di kerongkongan. Apalagi, saat melihat Samsi, Uswatun, M Edi Putra, dan Sinta yang sudah tak bernyawa. Netiarjo pingsan. Ia tak menyangka jika harus kehilangan empat anggota keluarganya sekaligus. Lihat videonya disini.

Saat dibawa ke luar ruangan kamar mayat, Netiarjo malah makin histeris. Tubuhnya lemas. Sanak keluarga lainnya langsung membopong Netiarjo ke tempat yang agak jauh dari ruangan kamar mayat.

Selang beberapa kemudian, Netiarjo mulai sadar dan bisa diajak bicara. Disitu, Netiarjo mengaku, dirinya baru dikabari kalau anaknya alami kecelakaaan. Biasanya, anaknya saat hendak pulang, selalu memberi kabar. Ini malah tidak ada kabar mau pulang. “Biasanya beri kabar kalau mau pulang. Tapi hari ini (Sabtu) tidak,” katanya.

Netiarjo mengaku, Samsi yang memiliki 2 anak itu, selalu perhatian pada orang tuanya. Sejak menikah dengan Uswatun asal Lumajang, Samsi pun menetap di Desa Dawuhan Lor, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang.

Entah kenapa, ternyata kejadian ini sudah dirasakan firasat kemarin pagi dini hari. Suaminya, Sunardi atau orang tua Samsi sedang sakit. Tiba-tiba tadi pagi bangun tidur dikejutkan suaminya tidak ada di rumah. Hingga akhirnya dirinya dan keluarga bingung merasa suaminya menghilang. Yang dikhawatirkan lagi, suaminya belum sehat.

“Saya dari tadi pagi bingung cari bapaknya Samsi. Karena tadi pagi tiba-tiba gak ada di rumah dan dipikir menghilang. Ternyata, bapaknya Samsi ada di warung kondisi kepala sakit,” katanya.

Maskur, 60, paman korban Samsi mengaku, dirinya tidak menyangka keponakan beserta semua anggota keluarganya meninggal bersamaan dalam kecelakaan. Sebab, selama ini Samsi dikenal baik pada keluarga dan orang lain.

“Yang meninggal itu Samsi sekeluarga, istri dan dua anaknya. Kalau korban meninggal lainnya, saya kurang paham namanya, karena dari keluarga istri Samsi di Lumajang,” katanya.

Maskur asal Desa Sokaan Kecamatan Krejengan menambahkan, keponakannya itu selalu bersikap baik pada keluarga dan orang lain.

Selama ini, Samsi kerja sebagai petani. Dirinya juga sering bercanda dengan keponakannya tersebut. Mereka semua sekeluarga dimakamkan di Lumajang.

“Orangnya baik. Pada orang tua juga perhatian. Buktinya pas bapaknya kurang sehat, mau jenguk,” ungkapnya.

Suasana duka terasa di kamar mayat RSUD Waluyo Jati, Kraksaan. Isak tangis pecah saat keluarga korban kecelakaan (laka) maut di Pajarakan melihat jenazah korban yang terbujur kaku. Bahkan, ada keluarga korban yang sempat pingsan dan harus dibopong oleh keluarga lainnya.

Ia adalah sang ibu bernama Netiarjo yang tak kuat melihat anaknya sekeluarga tewas secara tragis. Sambil teriak tak sadarkan diri, Netiarjo orang tua Samsi langsung dibopong oleh keluarganya untuk ditenangkan.

Siang itu, ada enam jenazah korban kecelakaan maut Isuzu Panther yang menabrak truk parkir di Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan. ”Biasanya ngabari kalau mau pulang. Ini malah tidak ngabari,” kata Netiarjo saat kondisi sudah mulai sadar. (rf/mie)