3 Korban Laka Pajarakan Dirujuk ke Jember, 2 Masih Dirawat di Kraksaan

KRAKSAAN – Tiga dari 5 korban kecelakaan maut di Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (23/3), harus dirujuk ke RSUD dr Soebandi, Kabupaten Jember. Sementara dua lainnya masih dirawat di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan.

Tiga korban yang dirujuk ke Jember di antaranya Siti Hamsa, 60; Dinda, 6; dan juga Alfian, 8. Mereka dirujuk karena kondisinya kritis. Sementara dua korban yang masih dirawat di Kraksaan yaitu Wiwik, 33 dan Mariam, 59.

Sugianto, humas RSUD Waluyo Jati Kraksaan mengatakan, korban kecelakaan maut itu dirujuk Sabtu (23/3) malam. “Malam itu juga dirujuk agar mendapatkan perawatan yang lebih baik. Selain itu, kondisinya masih belum membaik,” katanya.

Pria yang akrab disapa Sugi itu menjelaskan, untuk yang dua korban lain masih dalam perawatan karena kondisinya normal. Dan, korban sendiri sudah bisa diajak berkomunikasi.

“Diajak ngobrol enak, makan bisa sendiri, dan ingatannya juga bagus, tidak ada yang fatal,” jelasnya. Ia memastikan, bahwa kedua korban tersebut tidak mangalami cedera di bagian tubuhnya. Dari hasil rontgen juga baik.

Sementara itu, meski kondisinya membaik, namun secara psikologis, para korban belum siap. Bahkan, mereka mengaku trauma atas kecelakaan tersebut. Wiwik, 33, salah seorang korban yang masih dirawat di RSUD Waluyo Jati Kraksaan mengatakan, ia masih terbayang peristiwa tersebut.

Perempuan asal Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, itu mengatakan, saat ini dirinya masih trauma. Pasalnya, ia masih terbayang tragedi yang merenggut 6 nyawa keluarga besarnya. “Saya masih terbayang anak saya yang menangis terjepit. Inginnya, tidak ingin naik mobil lagi,” terangnya.

Menurutnya, peristiwa Sabtu lalu itu sangat membuatnya terpukul. Apa lagi, kejadian itu terjadi sangat cepat. Yang masih terus terbayang yaitu tangisan anaknya, Alfian, 8, yang saat ini dirujuk ke RS Soebandi Jember. Saat kejadian, ia sempat tidak sadar. Itu, lantaran benturan yang sangat keras yang dialaminya.

“Saya trauma sekali kalau mendengar anak saya nangis. Ingatan saya langsung terbayang waktu kejadian itu,” ujarnya. Lebih lanjut, sesaat setelah di RSUD Waluyo Jati dan ia mulai tersadar kembali yang pertama dicari adalah anaknya. Ia menanyakan bagaimana kondisi anak keduanya itu. Namun, saat diberitahu bahwa anaknya itu kondisinya kritis ia kembali linglung.

Sebelum kejadian, ia sempat memiliki firasat aneh. Yaitu, saat berada di perjalanan, Alfian yang sebelumnya tidak rewel kemudian menjadi rewel. Meskipun demikian, ia tidak berpikiran buruk dan sesuatu akan terjadi.

“Waktu di mobil mabuk, nggak biasanya anak itu mabuk. Sebelumnya, dia rewel. Minta ini itu, sembarang. Kalau nggak dibelikan nangis. Nggak seperti biasanya,” katanya.

Sementara itu, polisi terus selidiki penyebab kecelakaan. Satlantas Polres Probolinggo masih terus melakukan penyelidikan. Dari hasil penyelidikan itu, sementara disimpulkan bahwa penyebab kecelakaan itu diduga faktor human error.

Kasatlantas Polres Probolinggo AKP Ega Prayudi mengatakan, berdasarkan hasil analisisnya, kecelakaan tersebut disebabkan dari human error atau pengemudinya sendiri. “Kalau menurut saya itu karena faktor human error,” ujarnya. Alasannya, kondisi jalan baik. Selain itu, soal mobil, polisi mendapati jika mobil tersebut parah.

Diberitakan sebelumnya, kecelakaan maut terjadi sekitar pukul 09.00. Bermula dari mobil Panther nopol N 1037 YD melaju kencang dari arah barat. Sesampainya di lokasi, mobil yang di kemudikan Syamsi itu mendahului kendaraan lain di depannya.

Apes, ketika sudah berada di jalur lain ada truk dari arah berlawanan. Akibatnya, melihat ada kendaraan lain itu sang pengemudi langsung banting setir. Saat bagian belakang kendaraan itu menyenggol kendaan yang disalipnya. Sehingga, Panther pun oleng dan menabrak truk dengan nopol DK 3860 DN yang parkir di bahu jalan. (sid/rf)