Total Kerugian Puting Beliung Wonomerto Capai Rp 300 Juta

WONOMERTO – Puting beliung yang melanda empat desa di Kecamatan Wonomerto, Sabtu (23/3), berdampak pada 77 bangunan. Di antaranya 75 rumah, satu masjid, dan satu kandang ayam rusak. Total kerugian akibat bencana tersebut ditaksir mencapai Rp 300 juta.

Camat Wonomerto Ramiadi saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, Minggu (24/3) mengatakan, pihaknya sudah merampungkan pendataan pada bangunan yang rusak. Rinciannya, di Desa Pohsangit Lor ada 61 rumah dan 1 masjid; Desa Pohsangit Tengah ada 4 rumah; Desa Pohsangit Ngisor ada 1 kandang ayam; dan Desa Kareng Kidul ada 10 rumah.

“Dari empat desa yang terkena puting beliung, paling parah yakni masjid di Desa Pohsangit Lor, kandang ayam di Desa Pohsangit Ngisor, dan juga satu rumah milik Sahar Rasidi di Desa Kareng Kidul,” terangnya. “Kandang ayam, kerugiannya bisa mencapai Rp 70-80 juta. Jika ditaksir semuanya, sekitar Rp 300 juta-an,” imbuhnya.

Usai melakukan pendataan, pihaknya berkoordinasi dengan pemkab melalui BPBD. Harapannya, ada bantuan yang diberikan pada warga yang bangunannya rusak parah.

Juga dilakukan bakti sosial untuk perbaikan Masjid Roudlotul Jannah di Desa Pohsangit Lor. Perbaikan melibatkan sedikitnya 50 personel gabungan. Yakni, dari Dinas sosial, BPBD dan Tagana, Polsek Wonomerto, dan juga Babinsa Kecamatan Wonomerto. Termasuk juga warga setempat.

Sekretaris BPBD Kabupaten Probolinggo Asep Haerul Saleh mengatakan, bantuan yang bisa diberikan baru berupa tenaga dan dua buah terpal. Rencananya, terpal itu akan digunakan sebagai atap sementara masjid. Namun, warga dan pemerintah desa swadaya memperbaiki masjid. Seperti kebutuhan kayu plafon dan genting.

“Dari BPBD dan Tagana termasuk tim TRC ada sekitar 15 orang yang dilibatkan. Kita memberikan bantuan dua terpal. Namun, rupanya ada bantuan genting dari swadaya masyarakat. Jadi, terpalnya yang mulanya diperuntukan untuk menutup atap, sementara digunakan untuk kepentingan lainnya,” terangnya.

Kerja bakti yang dilakukan berlangsung mulai pukul 07.00 hingga selesai sekitar pukul 11.00. “Untuk kerja bakti ini kami fokus pada satu titik saja. Yakni, yang merusak fasilitas umum. Seperti masjid. Untuk rumah yang rusaknya tidak terlalu parah, mereka langsung melakukan perbaikan sendiri pasca kejadian,” jelasnya.

Media ini sempat mengunjungi kediaman Sahar Rasidi, 55, korban bencana di Desa Kareng Kidul. Dalam pantauan media ini, atap kandangnya rusak disapu angin. Tampak sejumlah keluarga dan tetangga membantu melakukan perbaikan. “Jadi, ini dapur plus kandang sapi. Bukan rumah. Memang baru dibangun sekitar setahun,” terangnya.

Sahar Rasidi mengaku melakukan perbaikan dapur dan kandangnya itu dengan biaya sendiri. Sebab, bantuan dari pemerinath belum ada. “Kalau bantuan dari pemerintah belum ada. Kami perbaiki dengan dana pribadi. Jika memang ada bantuan dari pemerintah, prosesnya akan lama. Sementara kalau tidak segera diperbaiki, tidak bisa ditempati,” bebernya.

Di sisi lain, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi mengaku akan terus memantau perkembangan cuaca. Terutama dampak dari siklon tropis Verinoca dan Ex-Trevor. Pasalnya, sedikit banyak akibat kondisi tersebut berpengaruh terhadap cuaca di Indonesia, khususnya di Probolinggo.

“Untuk perkiraan cuaca ekstrem sampai kapan tidak bisa dipastikan. Namun, kami terus pantau perkembanganya. Berdasarkan pantauan BMKG, dua siklon tropis tersebut semakin lama semakin menjauh dari wilayah Indonesia,” terangnya.

Kondisi cuaca ini juga berpengaruh terhadap pergerakan abu vulkanik Gunung Bromo. Dari Dampak siklon tersebut, angin sering berembus ke arah timur laut, timur, dan tenggara. Sehingga, berdampak di Kecamatan Sumber dan Sukapura.

“Informasi ini disampaikan kepada masyarakat agar bisa mengantisipasi dan mewaspadai setiap perkembangan yang terjadi. Dan, kami berharap agar kondisi ini bisa segera berlalu dan kehidupan masyarakat bisa kembali normal,” tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Prijo Djatmiko. Menurutnya, memang untuk beberapa hari cuaca ekstrem masih melanda di Kota Probolinggo. Namun, belum bisa diprediksai sampai kapan. Yang jelas hingga saat ini sesuai hasil analisis BMKG, masih ada potensi untuk hujan sedang-lebat yang disertai angin kencang dan petir.

Sementara untuk kondisi lokasi angin puting beliung sendiri di Kota Probolinggo, yang paling berpotensi yakni di daerah selatan. Yakni, daerah Sumber Wetan dan sekitarnya. Oleh sebabnya, masyarakat diimbau untuk tetap waspada.

“Kami imbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila mengetahui ada yang membahayakan. Contohnya ranting pohon yang dekat dengan jaringan listrik. Pohon tua atau daunnya lebat yang rawan tumbang. Atau, baliho yang kondisinya membahayakan,” katanya. (rpd/rf)